manis membutakan

Manis membutakan Pahit memuakkan Lidah merasa Hati … terkadang … tertipu   Hanya kekonyolan yang menerbangkan buta menjadi muak muak menjadi

baca

kami

It’s not just about you and me. It’s not as simple as that. Nor black and white. Never as that Life is much more worthy than fuckin’ minded

baca

adiksi

Seperti ini memang yang saya bayangkan sedari dulu. Untuk yang pernah pakai, sedang pakai, akan pakai, atau hanya berimajinasi untuk memakai. Untuk

baca

bayangan

Satu periode telah berlalu. Penuh dengan bayangan. Periode baru bermula. Penuh dengan bayangan yang sama. Waktu berlari. Tokoh berganti. Plot

baca

tidak enyah

Karena tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk mengenyahkanmu, dengan bangganya aku menerapkan ide terakhirku. Kuambil semuamu yang selalu

baca

Pada hati yang menangis

Pada hati yang menangis Kubungkuskan tawa Pada luka yang menganga Kubawakan kecupan penyembuh Pada rasa yang membeku Kutitipkan selimut Pada jiwa

baca

dogma kentut

Ia berceloteh tentang pengorbanan, idealisme, pengabdian, loyalitas, dan meski mulutnya tidak sampai berbusa (sebenarnya saya tidak pernah melihat

baca

Berenang di Kolam Sampah

Saya punya cerita. Tidak menarik, membosankan, terlalu biasa sehingga tidak sadar bahwa ini bukan idiom. Karena kau punya banyak uang untuk mengisi

baca

masih di tempat yang sama

Masih di tempat yang sama. Tidak ada yang perlu ditulis. Sebenarnya. Isi otak tidak perlu ada yang dimuntahkan. Brem. Rokok. On the Road Again. Pasir

baca

masih untuk kamu

Masih untuk kamu Aku menjadi begitu sopan berada di dekatmu Bahak pun selalu terlontar dari mereka yang berada dalam jiwaku Aku menjadi begitu

baca

Pada Saatnya

Pada saatnya, kamu harus sendiri, memang sendiri. Dengan deburan ombak, malam Jumat, gonggongan anjing. Kamu harus bisa sendiri. Karena kamu memang

baca

Surat untuk Zoe

Kepada siapa menggugat? Siapa digugat? Sekarang kamu berada di posisi mana, siapa yang kamu bela? Apa idealismemu? Obrolan menggantung di siang hari,

baca