sindoro

sindoro

Kali ini ceritaku tentang naik Sindoro.


Sindoro adalah gunung berketinggian 3.000 mdpl di daerah Temanggung. Gunung ini mempunyai kembaran yang lebih tinggi yaitu Gunung Sumbing, 3.300 mdpl. Rencana mendaki ini sebenarnya sangat mendadak. Awalnya kami ingin naik Prau dengan 16 orang. Karena banyak yang tidak bisa, Prau akhirnya diundur sampai tahun depan, lalu kami pun memutuskan untuk membuat rencana untuk kami kami saja (yang naik Bismo sebelumnya). Bindi pun memutuskan naik Sindoro. Membayangkan akan naik gunung setinggi Lawu dengan medan Bismo dan kondisi hujan langsung membuat nyaliku ciut, aku pun ragu akan ikut atau tidak. Elang juga sepertinya ragu-ragu. Setelah dipikir ulang, kami berdua pun setuju untuk ikut. Setelah menyusun jadwal, kami setuju untuk berangkat satu minggu lagi. Sebenarnya sejak saat itu, sampai momen kami berangkat dari rumah Luthfi, aku tidak terlalu excited … tidak tahu kenapa.

Beberapa hari sebelum berangkat, muncul beberapa masalah. 3 hari sebelum berangkat, Fafa mendadak datang bulan. Lalu, 2 hari sebelum berangkat, Meru tidak bisa ikut karena mendapat panggilan untuk main dengan tim sepak bolanya. Cadas pun datang bulan, saat lagi briefing. Bindi menyuruh Fafa dan Cadas untuk ikut saja. Kata Bindi, “Kalau mereka tahu konsekuensinya dan pihak basecamp mengijinkan, ya jalan saja.” Akhirnya, yang tidak ikut hanya Meru. Saat briefing, kami memutuskan akan membawa makanan apa dan memasak apa, dan dibagi dalam dua kelompok. Esoknya kami semua packing dan mencari surat kesehatan kami masing-masing.

Karena kali ini Luthfi ikut, kami bisa memakai mobilnya. Aku sangat senang karena tidak harus diburu-buru dengan jadwal balikin mobil dan pengeluaran bisa dikurangi. Di jalan, saat sudah dekat dengan basecamp, Sindoro Sumbing terlihat jelas walau sudah malam. Abram sampai bilang “hei cantik” ke gunungnya, padahal di samping mobil ada orang lagi pacaran naik motor. Mereka berdua langsung noleh ke Abram dan kami semua tertawa terbahak-bahak. Tiba di basecamp, aku lihat basecamp sangat ramai tapi masih pada jaga jarak, jadi aku ok ok saja. Selagi yang lain memasak, tiba-tiba perutku sakit. Aku bawa baringan, tidak kunjung membaik. Aku sudah takut tidak bisa naik. Bindi menyuruhku untuk makan dan minum teh pahit.

Setelah makan, kami bermain Uno, sedangkan Abram tidur. Nah, saat Abram tidur, dia memakai masker orang tersenyum sangat lebar. Jadi, aku, Elang, Sufi, dan Luthfi sibuk menahan tawa karena kebanyakan orang di basecamp sudah tidur. Tiba-tiba, Abram kentut lumayan keras, sampai orang-orang yang belum tidur tertawa. Kami tidak bisa lagi menahan tawa dan akhirnya terbahak-bahak. Kami semua pun tidur sekitar jam sepuluh. Aku terbangun sekitar jam 4 pagi karena Fafa ngorok dan aku tidak bisa tidur lagi, kebetulan Abram juga terbangun. Jadilah kami ngobrol dan ngambil gambar Sufi dan Luthfi yang sedang tidur. Sekitar jam 5, Sufi dan Luthfi terbangun. Saat itu matahari mulai terbit, Gunung Sumbing dan Sindoro terlihat jelas.

Aku pagi itu sangat semangat untuk naik. Kami segera membongkar barang bawaan untuk dicatat. Setelah mengurus registrasi dan berdoa kami pun berangkat. Aku sebenarnya ingin naik ojek, tapi karena aku sudah bilang ingin jalan kaki, aku pun jalan. Aku sempat bingung dengan jalan di perkampungan, karena tidak ada plang atau tanda arah sama sekali, jadilah kita tanya-tanya ke orang-orang kampung. Abram dan Cadas akhirnya naik ojek juga, aku agak kesal karena Abram awalnya bilang ingin jalan bersama, tapi ya sudahlah.

Tak lama sampailah kami di Pos 1. Pos 1 sudah hutan tapi belum memasuki batas vegetasi. Di Pos 1 kami sempat istirahat sebentar, foto foto, lalu memvideokan seekor kumbang berwarna hijau mengkilat. Dari Pos 1 ke Pos Ojek tidak terlalu lama, mungkin hanya sekitar 30 menit, tapi jalannya terjal dan licin jika basah. Kami berjalan sambil memunguti sampah-sampah yang kami temui di track. Rasanya seperti superhero karena ikut membantu membersihkan gunung. Sesampai di Pos Ojek, kami langsung menyantap snack dan energen hangat. Sebenarnya saat itu aku tidak lapar, hanya capek, jadi aku makan energen sedikit saja. Setelah memasukkan kembali Trangia untuk memasak ke dalam carrier, kami lanjut jalan berdasarkan kelompok. Saat itu aku yang paling depan dan Supi sebagai sweeper. 1 jam pertama, aku masih belum terlalu capek, malah terasa menyenangkan naik dengan membawa carrier. Lama-lama, langkahku mulai melambat karena mulai kecapekan. Aku sempat beberapa kali istirahat duduk, karena carrierku terasa sangat berat. Sekitar setengah jalan, aku sudah tidak bisa melihat kelompok Abram. Aku ingin memakai koyo, tapi sadar diri tidak kuat pakai koyo. Sekitar tiga perempat jalan, mulailah hujan gerimis. Kami langsung pakai ponco. Lama-lama, hujan bertambah deras. Untung kami sudah tiba di Pos 2. Dan hujan semakin deras.

Pos 2 ada shelter serta warung yang menjual minuman hangat, gorengan, dan mi. Hampir tergoda ingin beli mi … tapi apa daya duitku ini. Setelah istirahat secukupnya, jalanlah kami ke Pos 3. Saat itu yang jalan hujan-hujan cuma kami doang, semua pendaki lain, termasuk Bindi, tidak ada yang mau jalan hujan-hujanan. Tidak tahu kenapa kami buru-buru sekali, padahal yo Pos 3 ngga kabur kemana-mana kok. Di tengah jalan aku dan Sufi pindah posisi. Aku paling belakang dan Sufi paling depan. Karena aku pikir kalau aku di depan dengan jalanku yang macam bekicot ini akan merugikan yang lain, sedangkan Sufi sepertinya masih penuh energi.

Karena saat itu hujan lumayan kencang, jalan jadi seperti air terjun. Aku sampai tidak bisa melihat tempatku berpijak saking deras dan tingginya air. Untung aku sudah ganti sepatu gunung ke sandal gunung di Pos 2. Karena belajar dari pengalaman di Bismo, memakai sepatu basah sangat tidak enak, apalagi ditambah sepatu berisi air penuh, wah …. sangat berat dan tidak enak. Menurutku, jalan dari Pos 2 ke Pos 3 ini sangat susah. 15 menit berjalan aku sudah sangat capek. Saat Elang atau Fafa menanyakan apapun, aku hanya bisa menjawab dengan jempol ke atas karena rasanya mulut tidak mau terbuka. Ngomong pun hanya bisa “heh hoh hooh hmm” doang. Hujan deras yang membuat seluruh badan basah kuyup sangat menguras tenaga dan semangat. Ada bagian saat jalan sangat menanjak dengan bebatuan yang sampingnya langsung jurang. Dan pikiranku yang memang jarang dipakai berpikir ini sempat kepikiran untuk melompat terjun bebas ke jurang.

Idiot memang, tapi sudah kehilangan semangat dan energi, semua perasaan bercampur jadi satu yang akhirnya menjadi putus asa.

Di situ aku sudah kehilangan semangat. Carrier semakin menyiksa, tenaga makin terkuras, hujan tidak kian reda, membuatku mulai putus asa. Sedikit seperti saat di Lawu, saat kita baru turun dari puncak jam 5 sore, dan jika kami tidak balikin mobil hari itu juga, harus tambah Rp 200.000. Saat itu Abram kelihatannya juga sangat capek, tapi dia bisa tukeran tas dengan Cadas. Lah …. aku mau tukeran sama siapa. Tas Sufi dan Luthfi beratnya mirip denganku. Elang dan Fafa kelihatan mereka sudah tidak bisa membawa beban lebih berat. Bindi ada encok. Ya sudah, aku paksakan jalan pelan dengan istirahat banyak.

Di tengah tanjakan itu Bindi datang menyusul sendiri. Tanjakan itu lumayan panjang. Setelah selesai tanjakan, ada sedikit tanah landai dan semua pada istirahat makan snack di situ. Karena aku tidak lapar dan baru saja istirahat, aku memutuskan jalan duluan sendiri. Mungkin baru sekitar 10 menit jalan, aku istirahat di sebuah batu, dan samar-samar mendengar orang ngobrol. Awalnya aku pikir itu orang lewat, tapi kok suaranya tidak pindah. Jadilah aku memaksakan diri untuk jalan lebih cepat. Tiba-tiba, ada tanjakan lagi, tapi kali ini tidak terlalu panjang. Setengah jalan di tanjakan, aku melihat tanda Pos 3. Saat itu aku lega dan senang sekali. Aku langsung cepat-cepat jalan ke tanah landai, melepas carrier dan ponco, lalu berteriak “Pos 3!!!” ke yang lain di bawah. Sekitar 5 menit kemudian mereka datang dan aku lihat mereka juga sangat senang dan lega sudah sampai di Pos 3.

Pos 3 berupa tanah luas landai dengan beberapa tempat camping berbentuk undakan tangga besar. Di Pos 3 juga ada shelter dengan warung yang menjual pop mie, semangka, serta minuman. Dan, lagi-lagi, aku sempat tergoda tapi yang lain kelihatannya pada bodo amat, jadilah aku ikut bodo amat kepada si pop mie. Setelah ngobrol sebentar dengan pendaki lain, kami langsung buat tenda. Sebelum berangkat sebenarnya sudah diatur siapa yang buat tenda dan siapa yang masak. Saat itu aku tidak terlalu fokus ke yang lainnya karena lagi buat tenda, tapi ternyata ada beberapa temen yang harusnya masak malah buat tenda. Kalau semuanya sesuai briefing, harusnya tenda selesai, air panas dan minuman hangat juga sudah siap. Tapi kenyataannya, tenda selesai eh …. masih pada diam di dalam tenda. Setelah semua ganti baju, barulah pada mulai masak.

Aku dan Abram yang team leader saat itu kebagian tugas buat tenda, jadi saat itu aku sama Abram baringan di dalam tenda untuk istirahat. Tiba tiba Fafa dan Cadas (yang tugas memasak bareng Luthfi) datang memanggil kami untuk bantu masak. Aku saat itu iya iya saja karena tidak ingat tentang tugas-tugas. Sesampai di shelter (kami memasak di shelter), Bindi seperti keheranan kenapa aku dan Abram di situ. Bindi bilang tugas kita sudah selesai. Dengan perasaan bingung, aku dan Abram balik ke tenda lagi. Saat lagi bercanda dan istirahat, dari tenda sebelah (ada Sufi dan Elang), Sufi memanggil Abram dengan nada bercanda “Bram….” Abram pun menjawab dengan bercanda, dia menjawab “brambang goreng,” mungkin seperti itu sekitar 4 kali. Setelah itu Sufi minta tolong Abram manggilin Bindi dengan nada bercanda juga. Abram pun menjawab dengan memanggil Bindi dengan nada yang bercanda. Aku pun ketawa-ketawa sendiri. Tapi setelah Sufi bilang, “Bram, ini Elang kenapa Bram?,” Abram langsung ke tenda sebelah, dan aku langsung panggil Bindi.

Sekilas aku bisa melihat Elang menangis sambil menggigil. Aku langsung gantiin Bindi masak bareng Cadas, Fafa, dan Luthfi. Saat itu aku tidak terlalu panik karena aku tidak tahu Elang kenapa, dan juga di Pos 3 ramai. Jadi, kalo sampai kenapa-kenapa, banyak yang bantu.
Saat itu kami masak nasi dan tempe goreng. Memasak nasi agak lama, aku tidak tahu kenapa. Setelah Elang diberi air panas dan ditemenin Bindi, Sufi, dan Abram, menangisnya berhenti. Sebelum tidur, Elang tuker tenda, karena di tenda Abram air merembes dari samping. Setelah selesai beresin tempat makan dan lainnya, kami pun masuk tenda tidur.

Sekitar jam 3, aku terbangun karena ada suara orang menggigil dari luar tenda, lumayan keras. Karena ingin tahu, aku buka pintu tenda yang langsung disambut protes oleh Cadas karena dingin katanya. Aku melihat Abram di depan tenda, memeluk lutut sambil menggigil. Aku menyuruhnya masuk tapi dia menolak. Sambil menggigil dia bilang ke aku, “Pemandangannya bagus.” Jadilah aku tungguin dia. Sepuluh menit kemudian dia masuk dan kami berlima pun tidur satu tenda. Kakiku terlipat sana sini, sangat tidak enak.

Aku bangun sekitar jam 7-8, semua sudah bangun. Yang belum saat itu kayaknya cuma Cadas sama aku. Aku dibangunin Sufi sambil diberi energen hangat. Karena masih ngantuk, aku lanjut baringan bentar dan ketiduran. Aku baru bangun 30 menit kemudian dan langsung sarapan energen yang sudah tidak hangat. Setelah pakai sarung dan bangunin Cadas, aku jalan ke shelter tempat semua pada kumpul. Saat itu hujan gerimis rapat. Aku saat itu sebenarnya sangat pengen ke puncak, tapi karena cuaca dan teman naik hanya Sufi doang, aku mengurungkan niat, walau masih agak bimbang. Setelah pada sarapan dan beresin alat masak, kami lanjut main Uno sambil menunggu hujan reda untuk turun.

Mendadak, Sufi mengusulkan untuk naik, tapi hanya sampai Sunrise Camp. Di peta tertulis Sunrise Camp berjarak 30 menit dari Pos 3. Tapi bapak pemilik warung di Pos 3 bilang, dia bisa ke sana dalam waktu 5 menit. Tentu saja aku tidak percaya. Sebenarnya aku sempat ingin ke puncak dari Sunrise Camp, tapi Bindi bilang tidak boleh. Jadilah kami berangkat berempat (Abram, aku, Sufi, dan Luthfi). Jalan ke Sunrise Camp sangat terjal, tapi pemandangan bagus. Ada satu bagian yang harus pakai tali karena jalannya terjal dan licin. Jalan ini seru menurutku, karena inilah trek gunung yang kubayangkan sebelum naik gunung. Jalan curam bebatuan licin dengan tali dan orang harus bersusah payah naik. Dan ternyata, perjalanan ke Sunrise Camp hanya memakan waktu 10 menit. Di sana tidak ada shelter, hanya tempat landai yang sangat luas, ada yang di bawah pohon dan ada yang tidak tertutup apapun. Kami pun foto-foto di plang Sunrise lalu turun kembali ke Pos 3. Kukira yang lain sudah pada jalan duluan, tapi ternyata mereka menunggu kami.

Setelah semua siap, kami memulai perjalanan turun. Tadinya kami semua masih bareng, tapi sekitar lima belas menit, kami terpisah. Abram, Luthfi, Cadas, dan Fafa di belakang, sedangkan aku, Elang, Sufi, dan Bindi jalan duluan di depan. Menurutku, perjalanan turun ini yang paling menyenangkan, karena sangat santai dan kami bercanda terus. Kami semua berkumpul lagi di Pos 2. Cadas mau tukeran tas denganku. Karena sudah terbiasa membawa carrier berat, membawa tas cadas seperti tidak membawa apa apa. Lalu aku, Elang, dan Sufi jalan duluan. Di tengah jalan aku sempat panik karena hujan dan mantelku di tasku. Tapi ternyata mantolku sudah di kantong jaketnya Sufi. Kami pun lanjut jalan. Di beberapa bagian aku lari karena jalannya tidak berbatu dan aku membawa tas ringan. Perjalanan ke Pos Ojek tidak terasa karena aku sangat meng-enjoy perjalanan kali ini. Sampai di Pos Ojek, aku melihat ada indomie dan langsung menanyakan harganya, satu indomie Rp 6 ribu. Aku langsung beli, Elang dan Sufi juga. Saat makan Indomie rasanya enak sekali. Dingin dingin hujan, badan pegel makan indomie rasanya seperti surga dunia. Abram dan Luthfi memutuskan berangkat duluan tanpa makan Indomie.

Beberapa menit setelah mereka jalan, hujan pun turun. Aku saat itu agak khawatir karena mereka tidak bawa mantol. Cadas, Fafa, Elang memutuskan naik ojek dengan membawa semua barang bawaan kita. Jadilah aku dan Sufi jalan berdua, Bindi di belakang karena masih ngopi. Ternyata Abram dan Luthfi menunggu di gerbang hutan dan Abram kelihatan menggigil. Sufi langsung ngasih Luthfi satu mantol dan menyuruh Abram tungguin Bindi, karena Bindi pakai mantol batman. Kita pun jalan duluan karena aku sudah kedinginan. Di jalan ke basecamp kami lari, jadi tidak terlalu lama. Sesampai di basecamp, aku langsung ke toilet. Setelah buang sampah, minum telur mentah, dan packing ulang kami pun pulang ke Jogja. Di jalan kami sempat mampir di angkringan untuk makan.

laennya

Leave a Reply