Surat untuk Zoe

Surat untuk Zoe

Kepada siapa menggugat? Siapa digugat?

Sekarang kamu berada di posisi mana, siapa yang kamu bela? Apa idealismemu? Obrolan menggantung di siang hari, terputus begitu saja.

Di satu desa, di pulau erotis ini, saat duduk kelelahan di pinggir sawah setelah berputar ke sana ke sini, tampak di depan saya tubuh-tubuh kecoklatan mengilat bertelanjang dada dengan otot-otot bertonjolan, giat memegangi mesin paras yang bergetar keras, memecah-mecah batu paras agar menjadi potongan segi empat. Dengungan yang menusuk telinga.

Lalu lalang di depan saya ibu-ibu tukang susun berjalan tegak, menaiki jenjang demi jenjang tangga batu buatan dengan ketinggian sekitar 45 derajat, di kepala mereka bertumpuk dua, tiga, atau empat potong batu paras yang sudah berukuran segi empat. Bolak-balik mereka menaiki dan menuruni lereng, membawa batu paras dari pinggiran sungai yang katanya ‘sakral’, menyeberangi sawah, menaruh batu tersebut di pinggir jalan, yang nantinya akan didatangi oleh para penjual batu paras dan mengantar batu-batu tersebut untuk membentuk tempat ibadah, villa, hotel, bangunan apapun yang membutuhkan goyangan pantat khas pulau ini. Goyangan yang bagiku sudah terlalu memuakkan karena begitu murah dan begitu seringnya dipertontonkan. Ya, ini tempat yang mulai kehilangan identitas jiwa.

Ini pekerjaanku, kawan, dan tidak perlu kau memandang dengan rasa kasihan karena tidak ada tempat untuk berkasihan di dalam hidup kami.

Lihat, bekas luka memanjang di tanganku ini adalah gambaran kerasnya hidup kami. Temanku bahkan saraf kakinya terpotong oleh mesin pemotong paras. Tidak perlu melongo begitu, dalam dunia kami tidak ada tunjangan, tidak ada asuransi, tidak ada cuti sakit, tidak ada peralatan penunjang keamanan saat bekerja. Sudah, tutup saja mulutmu, percuma kau berkoar, dunia kami eksklusif, kau tidak akan bisa memahaminya kalau kau tidak terjun bersama kami, menatap dunia dengan pandangan kami.

Raungan mesin paras adalah masa depan kami.

Sudah cukup, dunia kecil di depan mata saya sudah terbuka lebar bagi jiwa. Saya memahami mereka. Dan itu membentuk nyeri baru yang bertumpuk di atas nyeri-nyeri usang yang tak pernah bisa mengering. Tetapi keingintahuan semakin memuncak, sepertinya saya harus memutar arah pandang. Kali ini, ada cerita yang semakin mirip. Uang adalah dorongan, dewa, harga diri yang semakin berkuasa.

Untuk apa mengelola tanahku, kalau aku bisa meraup untung secepatnya tanpa harus berpanaspanas, memutar otak benih apa yang harus kusebar dan diterima oleh tanah ini. untuk apa aku harus menjaga dan memelihara tanah yang menampung jiwa leluhurku kalau tak lama lagi aku bisa melunasi hutanghutangku yang semakin menumpuk di Lembaga Perkreditan Desa.

Aduh, punggung saya pegal, meski saya tidak pernah memanggul paras dan duduk lama untuk mematung sepanjang hidup saya. Sepertinya, cerita-cerita ini mulai berdampak buruk terhadap kesehatan bagian dalam tubuh saya. Atau, arah posisi duduk yang harus saya ubah lagi? Sepertinya begitu.

Nah, sekarang lebih enak. Meski pemandangan yang saya lihat tidak seindah dalam kartu pos. Tebing yang gundul. Coreng-moreng tertatah oleh mesin. Tanah yang tertumpuk begitu saja di tengah sungai.

Dan senandung lirih Kebo Iwa yang samar menelusup di telinga, menyanyikan kidung jiwa pulau erotis ini, sembari merendamkan tubuhnya di sungai sejuk, dan tangannya menatah halus badan tebing dengan ukiran yang ia harapkan dapat menjadi penanda abadi bagi anakcucunya, sebelum mesin paras itu dengan kokoh merobek tatahan itu, mencacahnya berkeping-keping hingga tak berbentuk.

Menjadi netral, realis, dan logis adalah suatu yang sulit saat setiap sisi selalu berusaha menarik-narik, dengan iming-imingnya sendiri dan cerita jujur yang mereka miliki. Tetapi, selalu ada keyakinan dan harapan yang kuat, bahwa semua akan mengarah dan bertemu pada satu titik yang menyenangkan, atau setidaknya beberapa titik yang dapat berjalan selaras, selama nurani dan ketulusan tetap menjadi satu patokan tunggal.

Dan Zoe, percayalah, setiap cerita selalu memiliki tempat dan waktu mereka masing-masing di setiap sudut pulau ini dan meski saat ini kamu merasa ada cerita yang terlalu saya tonjolkan, percayalah lagi, satu saat nanti, semua akan saling bergandengan. Pada saat dan waktu yang tepat.

Dan ketahuilah, jiwaku adalah jiwa marjinal

– 2012

Leave a Reply