tanpa hati

tanpa hati

Awalnya menyenangkan, menggairahkan, mengagetkan, dan membius

Dari beberapa tuts hp, dering panggilan, tiba-tiba saja ada tawaran kerja. Ketika langit serasa begitu hitam. Berubah terang, lalu semakin terang.

Mana pernah sebelumnya memegang uang sebesar itu dalam sebulan, atas hasil sendiri lagi. Secara teratur lagi. Bangga, ternyata saya bisa juga senilai itu.

Tugas-tugas pun terbentang. Tanggungjawabmu ini …. ini …. ini ….. Ok. No problem. Tinggal menghubungi sosok-sosok yang perlu didekati. Mempelajari budaya setempat dan tata pergaulan. Menempatkan diri dengan benar. Mengatur jadwal. Sedikit mendesak. Sok idealis. Topeng peduli lingkungan. Untunglah, saya dikaruniai dengan berbagai tombol dalam kepala. Jujur saja, tantangan tidak ada. Begitu mudah. Begitu tidak bermakna. Sayangnya, saya merasa ada keterikatan dengan mereka yang tinggal di tempat yang menurut saya tidak layak. Gugahan emosi muncul. Hanya secuil. Tetapi cukup menyebalkan. Seperti kerikil dalam boot. Jadilah tulisan pertama dalam jeda cukup lama.

Setelah itu, melirik tugas selanjutnya. Serta-merta menolak. Saya tidak bisa. Jenis yang terlalu peduli sehingga kesulitan untuk bersikap objektif.

Tetapi, tanggungjawab tetap tanggungjawab bukan.

Saat tersenyum, hanya lengosan, palingan kepala, tatapan dingin. Tidak apa-apa, persediaan senyum saya tak terbatas. Kali ini, saya menjadi saya. Membuka diri agar ada ketulusan yang terlihat. Hampir setiap hari saya berada di kawasan yang sama dengan mereka. Membuat mereka membiasakan diri dengan perempuan ini.

Itu kesalahan pertama

Diri yang sudah membuka enggan untuk menutup, atau – kesulitan? -dan terpampang lebar untuk merasakan.

Kesalahan kedua

Terlalu naif memang. Saya berpikir, ada tempat untuk mereka dalam tugas ini. Saya berpikir, kemanusiaan akan selalu dijunjung apapun risikonya. Saya lupa, saya dibayar untuk menyelesaikan tugas, bukan untuk merasakan, saya dibayar untuk melayani mereka yang membayar saya, dan dalam tugas ini saya tidak diminta untuk merasakan, saya diminta untuk bertindak segera dan langsung, bukan untuk mendekati secara perlahan dan mengajak mereka yang berbeda ke tempat yang bisa sedikit menggampangkan hidup mereka.

Saya lupa, saya bekerja untuk suatu perusahaan dan keberhasilan perusahaan itulah yang terpenting, meski mulut-mulut di sana berkoar tentang pentingnya hidup yang sejahtera dan nilai-nilai yang berkelanjutan. Ya. Terlalu naif.

Akhirnya, saya merasakan. Bukan hanya merasakan mereka yang dapat masuk dengan leluasa ke dalam hati saya. Tetapi juga seperti apa rasanya bekerja dengan menepiskan hati.

Saya berubah menjadi petugas-petugas berseragam yang dengan gagahnya menakuti pedagang-pedagang asongan di lapangan kota dan dengan senyum mengambil gerobak kreditan lalu melemparkan ke dalam truk. Demi uang. Demi pekerjaan.

Dan saya kesulitan, karena betapapun kerasnya usaha saya mencari dan mengaduk-aduk isi dalam kepala, tidak ada tombol yang tepat.

– 2012

Leave a Reply